ALGHIF,LBH JAKARTA, SUARA RAKYAT DAN DIVERGENT

Senin, 11 Agustus 2015, saya dan beberapa kawan lain, berkesempatan menghadiri pelantikan Alghiffari Aqsha sebagai Direktur baru di LBH Jakarta, menggantikan Direktur lama, Mayong sang direktur ke-12.

Ada beberapa catatan menarik yang saya rekam, dari pernyataan beberapa kawan yang berbicara di mimbar siang itu. Dalam pidato pisah sambutnya, Mayong mengingatkan tentang pentingnya transparansi keuangan dan kerja yang belum selesai, banyak mimpi tertundanya yang diharapkan selesai ditangan anak muda bernama Alghif. Juga, peringatan Mayong mengenai SOP keuangan yang harus diselesaikan Mbak Uni, Kepala Kantor. Bagi sebagian besar klien, kepala Kantor terkesan gak populer karena gak terlalu sering berhubungan. Sejak saya mengenal LBH Jakarta di tahun 2001, Kepala Kantor ini memang bertangan besi dalam anggaran. Kesuksesan Mbak Uni –kata Ocid—adalah karena keberhasilan menghemat. Ungkapan canda yang menurut saya sangat penting. Bukan bermaksud pelit, tapidemi efisiensi di segala bidang (ungkapan khas mentri Harmoko?). Sebab setiap rupiah, haruslah bermakna bagi si miskin yang dibela.

Kembali ke Alghif, harapan tertumpu pada anak muda ini sebab semangatnya luar biasa. Bersaing dengan Isnur, Tiwik dan Tommy, mereka berebut suara menduduki jabatan direktur. Bukan sebuah kompetisi, tapi demi menjalani mekanisme yang sudah berlangsung sangat lama. Siapapun yang jadi direktur, diyakini mampu membawa LBH Jakarta ke arah perubahan. Isnur, Tommy dan Tiwik, adalah nama patent untuk sebuah kesuksesan berperkara. Demikian juga Alghif. Hebatnya, Alghif memperluas kepemimpinan kolektif kolegial bukan saja ditangan para pimpinan (direktur dan para wakil) tetapi juga partisipasi para pengacara publik yang ada di gedung Diponers itu.

Sebuah kalimat yang diucapkan Alghif, menyentuh pikiran saya ketika dengan kalem dia menyebutkan bahwa  SUARA RAKYAT TERTINDAS, ADALAH ENERGI LBH JAKARTA, seolah melengkapi pernyataan Mas Dadang, Senior LBH Jakarta yang sekarang aktif di lembaga lain : LBH Jakarta adalah keajaiban dunia! Ungkapan Alghif  dan Mas Dadang memang beralasan, sebab sejak tahun 1970, ketika Soeharto mulai moncer, LBH Jakarta membawa suara rakyat dalam gerbongnya, maka disebutlah dia sebagai lokomotif perubahan kala itu. Peran yang terus bertransformasi seiring perubahan rezim dan situasi politik. Tapi, LBH Jakarta tetaplah hangat! Rakyat tertindas, dari semua sisi, semua isu, semua kalangan, semua sektor bertemu di LBH Jakarta. Itulah kenapa LBH Jakarta menjadi tempat netral pertemuan semua element. Ketika serikat A tidak mau ketemu di kantor serikat B karena konflik, tapi mereka sama-sama hadir ketika LBH Jakarta yang mengundang. Sungguh keajaiban yang terus berlanjut. Ungkapan Alghif, semoga menjadi spirit bagi generasi muda yang fresh di kantor itu untuk menemukan spirit awal terkait keberpihakan pada yang terpinggirkan.

Kedua, Alghif menyebut sebuah judul film : DIVERGENT untuk menggambarkan tentang klasifikasi masyarakat berdasarkan “watak/sifat” nya. Masyarakat, dipecah dalam (setidaknya 4 kelas berbeda) dan masing-masing di”paksa” memilih. Penyimpangan atas pilihan, sebut saja sesorang yang berpindah kelas, atau mempunyai 4 watak sekaligus maka dirinya dalam bahaya besar. Bukan tidak mungkin, dirinya akan dibunuh dengan tuduhan menggangu tatanan masyarakat. Padahal, sebenarnya kalsifikasi itu hanya “permainan” rezim untuk mengendalikan masyarakat agar tidak kuat. Di sekuel fim kedua berjudul INSURGENT, pertarungan itu diperjelas. Dalam bahasa yang lain, Dian (FBLP) mengatakan bahwa sistem pendidikan kita dibuat seperti itu dengan sistem kejuruan agar masing-masing bergerak pada pilihannya dan tidak menyimpang. Padahal, sebagaimana yang kita tahu, sistem pendidikan yang telah dikapitalisasitersebut  bertujuan membuat masyarakat mudah dikendalikan (baca : untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi).

 Nah, Alghif, rupanya sadar akan hal ini dan kemudian harusnya menjadikan tim Pengacara Publiknya menjadi anak-anak muda bertalenta tinggi dengan kemampuan yang sangat komplit. Tim LBH Jakarta, setidaknya sejak dipimpin Asfinawati, setidaknya memberikan sebuah “oase” baru sebab mereka mampu menunjukkan wajah humanis lembaga bantuan hukum yang tetap tegas tapi performance penghuninya yang “gaul”. Asfin yang jago piano, Mayong yang gitaris Diponers 74 (grup Band LBH Jakarta), Alghif yang menggesek celo…..setidaknya menjadi hiburan yang mengasyikkan.

Dalam beberapa kali diskusi dengan kawan-kawan buruh di basis, mereka bertanya, siapa di LBH Jakarta yang bisa jadi chanel untuk mendiskusikan kasus-kasus? Saya jawab, bertemulah dengan sispapun disana, kalian akan menemukan jawaban. Sebab, berbicara LBH Jakarta, adalah berbicara tentang sistem. Tentang orang-orang yang dipilih dengan mekanisme patent dan jaminan demokratisasi yang luar biasa. Semua, bekerja dengan standard pembelaan kaum miskin yang memastikan nyaman bagi klien sebab klien berkuasa atas pilihannya, semua bekerja mengabdi pada sebuah platform dan semua berkeinginan sama : menjadikan rakyat tertindas, terdengar suaranya dimuka rezim, sebab itulah energi LBH Jakarta. Terpilihnya Alghif, semoga menegaskan garis itu.
Mengakhiri catatan pendek ini, saya ingin menyatakan bahwa 2 hal yang paling penting ketika pengacara publik LBH Jakarta bekerja adalah : keberpihakan total pada kepentingan klien (demi mendorong perubahan fundamental) dan keberadaan mereka ditengah korban.

Selamat bekerja Alghif, selamat berkolaborasi Tiwik, Tommy dan Isnur dan semua kru. Terima Kasih LBH Jakarta, Terima kasih Mayong!