• Home »
  • AKSI »
  • BURUKNYA MENEJEMEN K3, PT.KARAWANG PRIMA STEEL,MEMAKAN 10 KORBAN

BURUKNYA MENEJEMEN K3, PT.KARAWANG PRIMA STEEL,MEMAKAN 10 KORBAN

15 Agustus 2015, pukul 15.30, ketika negeri ini bergegas menyiapkan pesta kemerdekaannya, buruh Indonesia bersimbah darah, direnggut kemerdekaannya oleh pemodal yang abai dan menjadikan nyawa buruh seolah tak berguna, sebagai tumbal untuk mengeruk keuntungan berlipat ganda.  10 orang buruh PT. KPSS berlokasi di Pangkalan, Loji Karawang menjadi korban kecelakaan atas meledaknya tungku peleburan besi baja di perusahaan pengolahan baja tersebut.
Menurut para buruh, salah satu penyebab terjadinya ledakan, adalah karena perusahaan kejar target keuntungan dengan mengabaikan sortasi bahan baku yang dilebur diantaranya tabung danbekas dongkrak hidrolik. Menurut para buruh, komposisi pada bahan-bahan tersebut memang sangat rentan menyebabkan ledakan ketika dilakukan peleburan dengan suhu tinggi. Disamping itu, kondisi tempat kerja yang sangat buruk juga menjadi penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja. Kondisi tersebut antara lain : tidak ada rambu-rambu keselamatan, lokasi berbahaya yang sangat dekat dengan lalu lalang buruh, alat pelindung diri yang seadanya dan yang lebih parah lagi para operator yang mengoperasikan mesin peleburan besi tersebut tidak memiliki sertifikasi dan tentu saja mereka bekerja dibawah tekanan, ancaman dan kadang diperintah dengan cara yang kasar oleh atasannya. Kecelakaan sebelumnya pada tahun 2012, bahkan merenggut lebih banyak korban meninggal.
Perusahaan ini, bukan saja abai terhadap ketentuan K3, tetapi juga pelanggar hukum yang keras kepala. Seminggu sebelum lebaran, para buruh melakukan aksi mogok dikarenakan perusahaan membayar THR yang tidak sesuai dengan ketentuan dan perusahaan juga mengabaikan nota pemeriksaan pengawas Disnakertrans Karawang yang menyatakan bahwa para buruh, statusnya demi hukum menjadi PKWTT / Buruh tetap di perusahaan.
10 orang buruh yang mengalami kecelakaan, kondisinya 2 orang masih kritis dan dirawat di RS. Hasan Sadikin Bandung (Sudirman dan Karma), 4 Orang masih dirawat di RSUD Karawang (Dasum, Badrudin, Keman, Aneng) dan 3 orang sudah diperbolehkan pulang karena mengalami luka ringan (Zarkasih, Hamid dan Eka). Sementara seorang seorang tenaga kerja asing dari Tiongkok yang menjadi korban telah meninggal dunia pada hari Senin (17/8) pukul 18.00.
Perlu diketahui, bahwa tenaga kerja asing yang meninggal tersebut, merupakan salah satu dari sekitar 60an tenaga kerja asing asal Tiongkok yang ada di perusahaan tersebut. Sungguh sangat ironis, para pekerja asing tersebut, bukanlah merupakan tenaga kerja ahli, sebab hanya bekerja sebagai supervisor dan  operator dengan upah sekitar 8-9 juta rupiah, sementara para buruh lokal hanya menerima upah sesuai UMK dan hak-hak normatif lain yang masih dilanggar.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka Federasi Serikat Buruh Kerakyatan menyatakan sikapnya sebagai berikut :
1.     Menyatakan duka cita yang mendalam atas jatuhnya korban dari pihak buruh;
2.     Mengecam dengan keras, sikap perusahaan yang mengabaikan sistem manajemen K-3 sehingga menyebabkan kecelakaan bagi buruh;
3.     Mendesak kepada Kepala Disnakertrans Karawang untuk segera mengusut berbagai pelanggaran normatif di perusahaan dan keberadaan pekerja asing yang disinyalir melanggar ketentuan mengenai penempatan tenaga kerja asing di Indonesia;
4.     Mendesak kepada Kepala Kantor Imigrasi Karawang untuk segera melakukan pemeriksaan keberadaan tenaga kerja asing di perusahaan dan apabila ditemukan keberadaan tenaga kerja asing yang tidak sesuai ketentuan undang-undang untuk segera dideportasi;
5.     Mendesak Kepala Polres Karawang untuk segera menuntaskan pengusutan dan penyisikan kasus ini dan menyeret pimpinan perusahaan atas kelalaiannya yang menyebabkan jatuhnya korban dan menghukum dengan hukuman maksimal.