HENTIKAN KRIMINALISASI KEKERASAN, CUKUP SALIM KANCIL SEBAGAI KORBAN TERAKHIR

Pembunuhan terhadap saudara kita, Salim Kancil telah memicu aksi di seantero negeri. Desakan kepada Kapolri dan Bupati Lumajang, untuk mengusut Pembunuhan Berencana Salim Kancil terus bergulir. Ini, sedikit bukti bahwa negeri ini sedang dalam darurat demokrasi, berada dalam titik nadir rasa aman, entah sebagai apapun di negeri ini. Sebagai petani dibunuh, sebagai pedagang digusur paksa, sebagai buruh pabrik dipecat, sebagai pengurus serikat buruh dimusuhi, diintimidasi, diskorsing bahkan dihadang oleh sesama buruh yang rela menjadi kaki tangan kuasa modal.

Dulu, kami mengira. Cukup Marsinah saja yang dibunuh, tetapi ternyata kami salah. Beruntun Wiji Thukul hilang paksa, Udin jurnalis mati, Cak Munir diracun, lalu Yopi ditikam belati hingga paru-parunya robek, dan kini saudara kami Salim Kancil terbunuh! Dibunuh! Negeri macam apakah ini?

Terbunuhnya Salim Kancil, menyisakan duka mendalam, sebab inilah pembunuhan keji di alam demokrasi. Pembunuhan keji Salim Kancil bukan kriminal biasa, tapi pembunuhan berencana yang dipicu penolakan warga terhadap penambangan pasir besi. Kejadian ini berpotensi terulang. Berawal dari Penolakan FORUM KOMUNIKASI MASYARAKAT PEDULI DESA SELOK AWAR – AWAR, Pasirian Kab. Lumajang terhadap penambangan pasir besi yang berkedok pariwisata yang justru berakibat rusaknya lingkungan desa pada Januari 2015. Mereka mulai menyampaikan penolakan dan permohonan audiensi pada Bupati (Juni 2015) tapi tak mendapat tanggapan, sampai akhirnya mereka memutuskan menyetop truk pengangkut pasir (9 September, 2015). Sehari setelah itu, sekelompok Preman suruhan kepala desa mulai melakukan intimidasi bahkan mengancam akan membunuh Tosan, salah satu tokoh yang menolak penambangan tersebut. Pada 11 September, FORUM KOMUNIKASI melaporkan ancaman pembunuhan tersebut kepada Polres Lumajang. Tapi belum juga ada tindakan tegas dari Polres Lumajang. Mereka juga melaporkan bahwa tambang itu ilegal (Sept. 21) dan berencana menghentikan pertambangan yang terus berjalan pada 26 Sept. Pada pagi hari, 26 Sept. 2015. Tosan kembali didatangi puluhan preman yang langsung mengeroyoknya. Korban terjatuh, dianiaya, dipukul dengan pentungan kayu, pacul, Batu dan clurit, setelah terjatuh, mereka sempat melindas dengan sepeda motor. Tosan akhirnya diselamatkan temannya dan dibawa ke Rumah Sakit. Gerombolan Preman kemudian mendatangi rumah Salim Kancil – salah satu tokoh FORUM KOMUNIKASI, yang pagi itu sedang menggendong cucunya di rumah. Salim Kancil lantas menaruh cucunya dilantai, sebelum akhirnya tangannya diikat lantas diseret ke balai desa setempat yang jaraknya sekitar 2 km, disaksikan warga desa yang ketakutan, termasuk anak-anak yang sedang belajar di PAUD. Sampai balai desa, dia dipukuli dan disiksa distrum Listrik, dan digergaji lehernya. Jenasahnya di buang di jalan depan pintu masuk kuburan. Kejadian ini berpotensi lagi terjadi mengingat pertambangan di pesisir selatan Lumajang telah menimbulkan keresahan dan penolakan di berbagai tempat. Mulai Desa Wotgalih – Kecamatan Yosowilangun hingga desa Pandanarum dan Pandanwangi – Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang. Banyak tambang yanga beroperasi secara ilegal dan merusak lahan pertanian pesisir pantai dan rentan konflik dengan petani penggarap lahan pesisir.

Aksi hari ini, selain dimaksudkan sebagai bentuk solidaritas bagi Salim Kancil, Doa kesembuhan bagi Tosan dan dukungan bagi pejuang rakyat yang hari ini masih berkubang dengan ancaman dan intimidasi, sekaligus sebagai desakan dan peringatan kepada seluruh aparat birokrasi di Kabupaten Karawang. Peringatan itu, seharusnya menjadi alarm dini sebab di kota pangkal perjuangan ini, kondisinya tak jauh berbeda. Penambangan liar merajalela, perampasan tanah berjalan mulus atas dukungan aparat negara, pemberangusan serikat buruh marak seperti jamur di musim hujan, kriminalisasi petani juga menjadi berita sehari-hari. Kondisi yang juga sama adalah Pejabat Kab. Karawang yang harusnya berada di tengah rakyat untuk melayani, hanya sibuk memoles diri untuk pesta pembohongan massal menipu rakyat dan berpesta dalam pilkada. Peringatan ini, seharusnya menjadi cambuk untuk memperbaiki diri, bukan menjadi alasan untuk menyorongkan senapan!

KEPADA SELURUH RAKYAT YANG SEDANG BERJUANG MARI BERGANDENG TANGAN
DAN BERSATU MEREBUT DAULAT!

KARAWANG, 2 OKTOBER 2015

Riki Hermawan (SERBUK) – 0898-6669-970 / BambangTambora (FSP2KI) – 0857-7409-4076 / Engkos Koswara (SEPETAK) – 0822-9919-6588 /  Ilhamsyah (Pimpinan Nasional KP-KPBI) – 0812-1923-5552