Indonesia Tidak Untuk Dijual



Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Indonesia tahun ini merupakan suatu forum politik yang strategis untuk menyuarakan isu-isu ekonomi politik dan sosial masyarakat-masyarakat di negeri-negeri Asia dan Afrika yang sedang mengalami proses neoliberalisasi di segala aspek kehidupan. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi barometer, apakah negara-negara Asia dan Afrika akan melanjutkan kebijakan neoliberalisasi itu di negaranya masing-masing, dan KAA menjadi forum yang justru mendukung neoliberalisasi yang telah terbukti membawa dunia ke jurang krisis.

Kita bisa melihat apa yang terjadi pada 5,5 miliar penduduk negara-negara Asia dan Afrika, yang merupakan 75% penduduk dunia. Kemiskinan, kekerasan, pelanggaran HAM, rasisme, pemusnahan etnik, eksploitasi tenaga kerja murah, perdagangan manusia, kriminalitas, narkoba, terorisme, eksploitasi dan perusakan sumber daya alam, otoritarianisme dan represi antidemokratik—fenomena-fenomena itu masih menjadi persoalan-persoalan besar bagi rakyat-rakyat Asia dan Afrika. Bagaimana menjelaskan fenomena-fenomena itu tanpa memahami sistem global yang bekerja ini, yaitu sistem ekonomi neoliberal yang dijalankan oleh sebagian besar pemerintahan negara-negara Asia dan Afrika saat ini? Tentu TIDAK MUNGKIN melepaskan persoalan-persoalan itu dari neoliberalisme itu sendiri! Persoalan-persoalan itu justru merupakan konsekuensi dari sistem neoliberal alias pasar bebas dan sistem yang pro-investor yang terus melanggengkan ketimpangan ekonomi dan kegagalan negara untuk menjamin dan melindungi kesejahteraan warga negaranya sendiri.
Dengan duduknya sejumlah perwakilan negara yang terang-terangan memamerkan ambisi kapitalis-neoliberalnya di dalam Konferensi Asia-Afrika kali ini, yaitu China, Jepang, dan Rusia, kita layak pesimis KAA kali ini akan melahirkan terobosan berarti. Itu artinya, KAA akan tetap menjadi forum bagi negara-negara berkepentingan investasi besar untuk menenamkan investasinya di negara-negara yang lebih lemah ekonominya namun memiliki sumber daya alam melimpah untuk dieksploitasi. Hal ini terbukti dari banyaknya perusahaan multinasional yang diundang pemerintah Indonesia untuk ikut hadir dalam KAA tahun ini.
Sebagai suatu aliansi berbagai elemen pergerakan dalam perlindungan Sumber Daya Alam di Indonesia, kami Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA):

  1. Mendesak para pimpinan dan perwakilan negara-negara Asia dan Afrika untuk berkomitmen memperkuat kedaulatan masing-masing negara atas sumber daya alamnya, dan berkomitmen untuk melindungi kedaulatan sumber daya alam untuk kepentingan, kesejahteraan, dan kemakmuran rakyat masing-masing.
  2. Mendesak para pimpinan dan perwakilan negara-negara Asia dan Afrika untuk berkomitmen membangun ekonomi solider di antara negara-negara Asia dan Afrika, dan mengurangi ketergantungan kepada Amerika Serikat, Uni-Eropa, serta lembaga-lembaga neoliberal dunia (WTO, IMF, Bank Dunia) dengan membangun kooperasi dan kerjasama di bidang-bidang ekonomi alternatif yang ramah lingkungan dan alam, pro-rakyat, populis, dan partisipatif di antara sesama rakyat Asia dan Afrika.
  3. Mendesak pemerintah Indonesia untuk tidak melanjutkan kebijakan menjual sumber daya alam nasional kepada perusahaan-perusahaan multinasional, utamanya di sektor tambang dan ekstraktif. INDONESIA TIDAK UNTUK DIJUAL!

Demikian rilis ini kami buat, untuk menjadi perhatian para pimpinan dan delegasi negara-negara peserta Konferensi Asia-Afrika 2015.

Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA):
  • A.Syatori (koordinator regional Cirebon)
  • Sunu Nugroho (koordinator regional Kebumen)
  • M. Khamid (koordinator regional Rembang)
  • Mokh. Sobirin (koordinator regional Pati)
  • Roy Murtadho (koordinator regional  Jombang)
  • Muhammad Fakhry (koordinator regional Probolinggo)

Untuk konfirmasi terkait rilis ini, hubungi Muhammad Al-Fayyadl di fayyadl85@yahoo.com / +6281314981147. Kunjungi juga website kami www.daulathijau.org.