IndustriALL Indonesia Menciptakan Komite Perempuan

Pada tanggal 22 September 2013 Dewan IndustriALL menciptakan sebuah komite perempuan di Jakarta. Para wanita mengambil kesempatan untuk merencanakan aktivitas mereka pada tanggal 7 Oktober di mana mereka berniat untuk pergi ke Departemen Tenaga Kerja dengan delegasi dari 100 perempuan untuk menuntut pekerjaan yang layak dan menuntut perhatian lebih harus diberikan terhadap masalah perempuan.
Ketika membuka pertemuan itu, Bruder Sjaiful, para Convenor Dewan Indonesia, menjelaskan bahwa sesuai dengan pedoman IndustriAll, sebuah komite nasional diciptakan, di mana semua 11 afiliasi diminta untuk mencalonkan satu wakil. Ini akan dipimpin oleh Lilis Mahmudah dari SPN. Panitia didampingi dua anggota Exco IndustriAll, Wati Anwar dan Nikasi Grinting.
Kerja yang sulit terus menjadi tantangan utama serikat pekerja di Indonesia. Salah satu masalah yang paling penting dengan itu adalah perlindungan kehamilan, karena sebagai aturan pekerja tidak tetap tidak memiliki perlindungan kehamilan, cuti hamil atau bayar bersalin. Perempuan tidak bisa menikah dan mempertahankan pekerjaan mereka jika mereka adalah pekerja kontrak, dan jika mereka hamil, kontrak mereka dibatalkan.
Panitia diajukan tujuannya:
  • untuk membawa perempuan ke dalam struktur
  • untuk mendorong kepemimpinan perempuan
  • untuk membuat kegiatan bagi para pemimpin perempuan
  • untuk menciptakan sebuah lembaga advokasi untuk memecahkan masalah perempuan.
Komite bermaksud untuk mengatur pertemuan bulanan atau dua bulanan. Untuk mulai dengan mereka tertarik untuk membuat dampak pada tanggal 7 Oktober, Hari Internasional Pekerjaan yang Layak. Namun demikian mereka ingin mempersiapkan intervensi menurut serikat buruh kalender – 25 November Hari Internasional untuk Memerangi Kekerasan terhadap Perempuan, 1 Desember Hari AIDS Dunia, 10 Desember Hari Hak Asasi Manusia, Hari 8 Mar Perempuan Internasional dan sebagainya.
Pertemuan komite didahului oleh perempuan hanya pelatihan dasar dalam proyek yang didanai oleh FNV dan LO / TCO. Pada pelatihan para wanita mengerti mengapa penting untuk bergabung dengan serikat buruh, dan mereka belajar tentang konsep dasar kesehatan dan keselamatan dan perundingan bersama. Alat yang mereka punya adalah tubuh pemetaan dan membaca neraca. HIV / AIDS adalah masalah lain bahwa mereka dieksplorasi.
Setelah pertemuan di kunjungan ke Indonesia afiliasi FSPMI dan KEP kerja yang sulit terungkap memang menjadi tantangan utama. Namun para wanita bersikeras bahwa keprihatinan mereka seperti perlindungan kehamilan, kekerasan pada pekerjaan dan perlakuan yang sama dalam hal asuransi dan perpajakan perlu diperhatikan.