INTEGRITAS YANG TERGADAI

Dalam diri manusia ada 2 sisi. Sisi baik dan sisi buruk. Sisi baik ini bisa dikatakan adalah nurani a, yang tahu apa yang harusnya anda lakukan dan tahu apa yang boleh dan tidak anda lakukan. sementara sisi lainnya yang selalu menggoda anda untuk melakukan dan mengatakan hal-hal yang salah.
Integritas andalah Bertangung jawab dan dapat diperca yang akan menunjukkan kualitas karakter kita. Apakah integritas itu? Saat kita hidup   dengan keintegritas kita, artinya kita hidup dengan kebenaran utuh dengan diri  sendiri dan orang lain. Integritas  lebih cenderung menjalani hidup kita lebih sesuai dengan nilai-nilai lain yang kita kagumi dan hormati. Nilai-nilai hidup dalam diri kita bisa terbentuk dari orang-orang yang kita kagumi dan cintai. Dari merekalah kita  menyerap nilai hidup.
Ujian yang sebenarnya dari integritas kita adalah saat berada di bawah kondisi tertekan. Saat kita dipaksa untuk menjalani sebuah situasi dimana kita harus menentukan apakah kita akan mengambil keputusan yang selaras dengan nilai yang kita yakini dan bisakah kita berkompromi dengan nilai itu sendiri.
Nah,,kalu kita lihat begitu sangat diunggulkannya sebuah Integritas /bertanggung dan dapat dipercaya,kata inilah yang harus menjadi salah satu syarat seorang pemimpin termasuk juga pemimpin serikat pekerja. Memang Integritas harus melekat erat dalam diri seorang pengurus,kalaulah itu tidak dimiliki oleh seorang pengurus apalah jadinya lembaga serikat itu sendiri.
Pengurus Serikat pekerja diangkat oleh anggota serikat pekerja itu sendiri, ia terpilih dikarenakan ia dianggap punya kemampuan untuk menjalankan roda organisai. Di samping itu pengurus serikat pekerja itu sendiri memiliki beban tanggung jawab  di departemen/sectionnya masing-masing yang di atur dalam IJD ( Instrution Job Depcription ). Ia harus melakukan pekerjaannya kalaulah dia seorang bawahan,ia harus patuh dan tunduk kepada perintah atasan, meskipun ia adalah pengurus atau pemimpin di organisasi serikat. Terkadang pada kenyataannya ditemukan berbagai masalah ketika seorang pengurus serikat selaku organisasi yang mewakili seluruh pekerja pada posisi dan keadaan tertentu ia juga menjadi orang bawahan yang memiliki atasan di tempat kerja.
Padatnya pekerjaan  organisasi serikat dan membutuhkan ruang dan waktu untuk menjalankannya apalagi ketika berbenturan dengan jadwal kerja kita sendiri di seksi/departemen, dikarenakan komplik kepentingannya lebih besar menjalankan organisasi terpaksa kita harus izin untuk meninggalkan tempat kerja kita,meninggalkan teman-teman yang ada diseksi untuk mengambil alih pekerjaan kita. Disitulah dituntuk pengertian dari teman-teman untuk mau berbagi. Sejauh mana dan seberapa lama teman-teman yang ada diseksi mau berbagi pekerjaan,sejauh mana mereka mengerti kepentingan pengurus menjalankan organisasi untuk anggota,survie dilapangan hanya sedikit teman-teman kita yang mau mengerti pekerjaan kita diorganisasi menskipun pekerjaan yang kita lakukan untuk anggota,untuk orang banyak bahkan untuk dirinya sendiri.
Sebut  saja nama Beno,ia memiliki jabatan seorang operator pastilah memiliki atasan dilapangan dan tentu ia juga memiliki tanggung jawab diseksinya dan begitu juga diorganisasi serikat, ia terpiilih untuk mewakili teman-teman sekerja menjadi pengurus serikat, selaku organisasi pasti memiliki agenda kerja,rutinitas pertemuan-pertemuan yang kadang waktunya berbenturan dengan jam kerja. Semua prosedur akan dilakukan untuk meninggalkan tempat kerja sang atasan akan menstrukturnisasi pekerja yang di lapangan karena telah kekurangan anggota pekerja. Hal seperti itu akan terus berjalan sampai pada akhir masa jabatan pengurus tersebut berakhir.
Pada sampai saatnya evaluasi kerja tahunan ada volume kerja yang akan diberikan atasan untuk si Beno,ternyata volume kerja Beno jauh kurang dibandingkan teman-temannya yang lain,singkatnya siBeno dari sisi volume kerja mendapat point nol. Belum lagi menyakut tunjangan-tunjangan yang diberikan perusahaan kepada karyawan yang factor penilainya diambil dari tingkat kehadiran se Beno lagi-lagi mendapat poin nol. Itulah dilemma menjadi seorang pengurus sanggup mengorbankan diri untuk membela,mendamping bahkan mensejahterakan anggota meski ia sendiri tidak meninkmati hasil pembelaannya tersebut. Belum selesai s
ampai disitu penderitaan yang dirasakan si Beno pada saat pembelaan terhadap anggota tidak mendapat hasil yang memuaskan anggota lagi-lagi Si Beno diumpat. Tetapi pada saat si Beno berhasil memperjuangkan kesejahteraan anggota tidak terngiang ucapan terima kasih pada si beno.
Sikap anggota yang tidak selalu memihak pada hal yang sebenarnya inilah yang membuat si Beno dan kawan-kawan pengurus lainnya menjadi serba salah selalu tersudutkan,di mulai dari rasa kecewa dan frustasi si Beno mulai melirik kesempatan yang ditawarkan pihak perusahaan,dari memulai menurunkan tingkat tekanan serikat terhadap perusahaan,tidak memperdulikan lagi kasus-kasus yang terjadi pada anggota. Si Beno mulai memainkan perannya bagai agen ganda,main mata dengan pihak perusahaan,bisa itu tawaran jabatan,financial bahkan lain-lain. Maka si Beno tampa ragu ragu menggadaika Integritasnya pada perusahaan,Integritas yang sebagai modal utama atau syarat utama menjadi seorang pengurus tidak dipedulikan lagi. Kini si Beno berada diposisi aman dengan menggadaikan Integritasnya.jhonkolov@yahoo.co.id