KRIMINALISASI INI, ADALAH CARA REZIM MEMBUNGKAM KITA

Sejak pagi, jalanan di depan Pengadilan negeri Jakarta Pusat sudah macet akibat setengah bahu jalan ditutup massa aksi dari KPBI dan Serikat lagi yanag tergabung dalam Gerakan Buruh Indonesia (GBI). Massa aksi dengan dominasi warna merah menyala itu, terus bertahan dalam terik panas matahari yang mendidihkan rasa marah massa aksi. 
Situasi ini, merupakan bentuk dukungan dari KPBI-GBI terhadap kriminalisasi yang dilakukan rezim kepada 26 aktivis yang terlibat dalam aksi penolakan PP 78 tahun 2015 yang dihasilkan Rezim pro Investasi Jokwi-JK. Jokowi – JK, melalui PP 78/2015 ini, menjadikan upah butuh sebagai gula-gula manis untuk investor, ini merupakan rangkaian ke-4 kebijakan Jokowi untuk memuluskan paket ekonomi yang benar-benar pro modal.

Ilham Syah, dalam orasi politiknya menegaskan kemarahan gerakan buruh Indonesia atas situasi ini. Betapa tidak, kondisi ekonomi negeri yang memburuk, menjadikan rezim upah murah merasa tampil sebagai pahlawan kesiangan. Memberikan janji palsu tentang sekenario penguatan ekonomi pada seluruh rakyat dengan pembatasan kenaikan upah, sementara kondisi objektif di lapangan, rakyat semakin terpuruk. Selain itu, Ilham Syah menyampaikan beberapa agenda gerakan ke depan terkait dengan Kongres KPBI yang akan dilaksanakanpada 26-28 Agustus 2016 mendatang. 

Ditemui secara terpisah, Nelson F. Saragih, bagian dari Pimpinan Pusat FSP2KI yang juga tergabung dalam Tim Advokasi untuk Buruh dan Rakyat (TABUR) memberikan penegasan bahwa perjuangan membebaskan 26 aktivis ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari upaya kita menolak PP 78/2015, sebab mereka dikriminalkan ketika sedang bersama buruh melakukan aksi menolak PP 78/2015. 

Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengagendakan oembacaan eksekpsi dari 23 terdakwa dan penasehat hukum. Semua terdakwa membacakan eksepsi dan diakhiri oleh eksepsi penasehat hukum. Sidang baru dinyatakan selesai pada pukul 22.00 wib.(khi)