MEMPERINGATI HARI IBU

“Buruh Kontrak di larang Hamil” pengusaha akan merugi, fenomena tersebut sepertinya menjadi kata – kata fakta. 

Perjuangan buruh perempuan yang bekerja di pabrik semakin sulit mendapatkan ‘Hak’, sebagai perempuan yang sedang mengandung. Bangun pagi, mengurus anak, suami dan melakukan aktifitas di rumah sebelum berangkat kerja rutinitas yang harus dilakukan.
Sepertinya mengeluh upaya yang sia – sia, perhatian pemerintah sangat kurang atau sudah tak mau peduli kepada Buruh Perempuan. Buruh perempuan yang sedang hamil harus memberikan hasil kerja yang baik kepada pengusaha, dengan hasil produksi yang tinggi dan memuaskan. Tanpa memikirkan bagaimana keselamatan janin dan dirinya sendiri, memang sangat berat bila berada pada kenyataan tersebut. Bagaimana tidak, hamil saja dilarang, dianggap merepotkan pengusaha dan sangat menggangu peningkatan produksi.
Dari kacamata Pengusaha bagaimana dari hari ke hari produksi dan Produktifitas buruh harus meningkat isi kepala pengusaha memikirkan bagaimana menghasilkan keuntungan sebesar – besarnya entah itu dari hasil memeras atau merampok tenaga buruh tanpa memikirkan bagaimana jaminan kesehatan buruhnya. Kebutuhan hidup dan upah yang kecil mengakibatkan buruh perempuan sangat dirugikan. Bagaimana tidak, saat akan izin memeriksakan kehamilan atau mengambil Cuti melahirkan saja masih dipersulit, masih banyak Pengusaha dengan terang – terangan melanggar aturan perundang – Undang Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003 dengan dalih yang beragam. 
Status kerja dan upah murah yang membuat Buruh perempuan semakin terhimpit dan terjepit. tidak bekerja, tidak makan tidak apalah meski harus menanggung resiko kesehatan sijabang bayi semua di nikmati Siapa tau ada rezeki lain buat si jabang bayi, bicara pasrah buruh Perempuan hamil.