PEKERJAAN YANG LAYAK DALAM RANTAI PASOKKAN GLOBAL

 


Hari ini Governing Body Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengadopsi laporan hasil Konferensi Perburuhan Internasional ke-105 tentang pekerjaan yang layak dalam rantai pasokan global. Laporan tersebut akan menjadi bahan untuk ditinjau ulang oleh para ahli di ILO dan mempelajari kemungkinan keluarnya instrumen baru.

2016-06-11-11-39-43--2033328601

Laporan Konferensi mengakui terjadinya penggerusan hak-hak dasar buruh dalam rantai pasokan global, penurunan standar kerja, perubahan hubungan kerja disebabkan oleh ekspansi perusahaan multinasional, dan pentingnya tanggung jawab perusahaan multinasional untuk memperbaiki kehidupan buruh.

Dengan hasil di atas, Governing Body ILO memegang mandat agar meninjau isu-isu utama dalam rantai pasokan global tentang kondisi kerja yang semakin buruk, tentang upah yang terus menurun, keberadaan buruh perempuan, dan buruh migran.

Konferensi Perburuhan Internasional berlangsung dari 1 hingga 8 Juni 2016 di Jenewa, yang melibatkan buruh, pengusaha, dan pemerintah. Tema yang bertahun-tahun diblokade oleh kalangan pengusaha tersebut akhirnya menjadi salah topik dalam Konferensi Perburuhan Internasional Organisasi Perburuhan Internasional (ILC ILO) sekaligus menantang relevansi peranan ILO di Abad 21.

Sebelum dan selama Konferensi berlangsung kami telah merilis lima laporan tentang rantai pasokan global di industri perikanan dan garmen di Asia dan Amerika Serikat. Melalui media massa laporan tersebut telah menjadi bahan diskusi di Konferensi dan membuat para pengusaha berang. Laporan kami menyebutkan, sejak rantai pasokan global beroperasi, para pemilik korporasi internasional harus bertanggung jawab terhadap kehidupan buruh yang kian terpuruk dan hak berserikat yang diberangus.

Hasil sidang Konferensi mengindikasi beberapa hal yang baru, seperti pengakuan terhadap Protokol Kebebasan Berserikat di Indonesia dan “Bangladesh Acccord untuk Keselamatan Kerja” sebagai praktik yang baik untuk diperluas dan diperbanyak. Kita mengetahui bahwa banyak sekali perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh serikat buruh untuk mengikat para pemilik perusahaan multinasional, namun sulit sekali efektif.

Namun, dalam semua diskusi tersebut kita menyaksikan ada persoalan baru yakni meningkatnya jumlah buruh perempuan di semua sektor industri dan pekerja rumahan sebagai penopang dari rantai pasokan global.

Selama Konferensi berlangsung, para pengusaha dengan gigih mengelak tanggung jawab terhadap semua pelanggaran hak-hak dasar buruh dalam rantai pasokan global. Para pengusaha berusaha menyebut bahwa pelanggaran hak dasar buruh dalam rantai pasokan global adalah masalah nasional atau persoalan dalam negeri dan menjadi tanggung jawab pemerintah, bukan tanggung jawab para pemilik merek. Sementara itu, pemerintah pun mengelak disalahkan karena merasa perannya sangat terbatas yang tidak mampu memintai pertanggung jawaban perusahaan multinasional.

Dari awal para pengusaha menolak membahas mengenai perkembangan baru dari dampak dari rantai pasokan global dan mereka hanya bersedia berkompromi ketika serikat buruh memaksa mereka. Selain itu, nyaris tidak menjadi pembahasan yang memadai adalah mengenai buruh migran sebagai salah satu penopang dalam rantai pasokan global. Hal ini menandakan bahwa serikat buruh harus bekerja keras agar isu tersebut menjadi perhatian berbagai pihak. Pada akhirnya, penolakan pengusaha untuk membicarakan mengenai tanggung jawab para pemilik perusahaan multinasional adalah persoalan utama dalam rangkaian Konferensi. Hal tersebut menandai bahwa gerakan buruh perlu menyiapkan energi yang lebih banyak untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

Kami pun menyayangkan bahwa hasil akhir dari Konferensi tidak menyebutkan upah layak sebagai standari dalam rantai pasokan global. Padahal persoalan upah minimum adalah salah satu yang membuat ILO memiliki nilai di hadapan serikat buruh. Upah layak pun adalah tuntutan umum gerakan buruh di seluruh dunia. Diskusi hanya seputar pentingnya kebebasan berserikat dan penyalahgunaan jam kerja.

Dalam hal ini kita berharap ILO dapat bertindak lebih maju, tidak perlu lagi membatasi diri untuk terus menerus melakukan penelitian tentang dampak buruk rantai pasokan global. Laporan penelitian yang yang dipublikasikan selama Konferensi dan penelitian lainnya sudah memperlihatkan cukup bukti dan kita tidak memerlukan lagi banyak bukti, seperti yang selalu diulang-ulang oleh para pengusaha. Kami berharap diskusi tentang rantai pasokan global akan terus menjadi perbincangan di ILO dan menjadi bahan untuk membangun serikat buruh di seluruh dunia.

“Asia Floor Wage Alliance akan terus mengorganisasikan buruh-buruh garmen dan menunjukkan bukti-bukti baru mengenai pelanggaran hak asasi manusia dari rantai pasokan global dan mendorong ILO mengeluarkan peraturan yang mengikat mengenai perusahaan multinasional dalam rantai pasokan global,” kata Sekretariat Internasional Asia Floor Wage Alliance Anannya Bhattacharjee. “Kita membutuhkan regulasi yang mengikat rantai pasokan global, termasuk dalam produksi perikanan yang diekspor dan kami senang ketika ILO bersedia terus menunjukkan perannya di kancah internasional. Saat ini kawan-kawan kami di Massachusetts menuntut Costco bertanggung jawab dalam pelecehan seksual dan pencurian upah di salah satu pemasoknya. Saya telah mengatakan hal yang sama kepada ratusan buruh migran di Meksiko dan Amerikat Serikat agar mereka menuntut pula tanggung jawab perusahaan-perusahaan multinasional di pabrik pemasok mereka.

“Saya telah bertemu dengan buruh perempuan di toko-toko, di pabrik, dan di rumah. Kami akan terus berjuang menuntut pekerjaan dan penghidupan yang bagi semua buruh yang berada dalam rantai pasokan global, “ kata Olivia Garfias Guzman, National Guestworker Alliance.
Kata Jill Shenker, Aliansi Nasional Buruh Migran Amerika Serikat menambahkan, sejak lima tahun lalu pekerja rumah tangga berhasil mengkampanyekan mengenai standar perburuhan global dengan mengadopsi Konvensi ILO 189 tentang Kerja yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga. Sejak itu pula, 22 negara telah meratifikasinya dan 15 juta pekerja rumah tangga memiliki peluang mendapatkan perlindungan sosial dan penghidupan yang layak. “Jika ILO bisa mengeluarkan standar untuk pekerja rumah tangga, kenapa tidak untuk rantai pasokan global?”
“Kami memperhatikan mengenai pemenuhan hak-hak buruh di industri manufaktur, pertanian dan ritel. Kami berharap semua buruh dalam rantai pasokan yang sama bisa saling mendukung untuk menuntut para pemilik merek seperti H&M, GAP, Walmart, agar memenuhi hak-hak dasar buruh,” kata Departemen Penelitian Job With Justice Amerikat Serikat.

“Ketika rantai pasokan global memperlihat bentuk baru hubungan kerja, sekaligus merugikan buruh, khususnya perempuan dan buruh migran, tahun ini kita menyaksikan perlunya bentuk baru pengorganisasian buruh, model perjanjian bersama, dan menuntut pertanggunjawabab korporasi. Dengan hasil yang konkret, ILO perlu memperlihatkan perannya untuk menciptakan upah layak dan kondisi kerja bagi buruh, ” kata Jennifer (JJ) Rosenbaum, National Guestworker Alliance

“Pemerintah Indonesia dan Apindo dalam di sidang Konferensi mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur dan pembangunan kawasan industri telah menurunkan angka kemiskinan dan menciptakan lapangan kerja. Pada kenyataannya, rantai pasokan global semakin membuat buruh dirampas hak-haknya. Perusahaan pun semakin mudah merelokasi usahanya ketika buruh menuntut perbaikan kondisi kerja. Contoh kehidupan buruh yang semakin terpuruk adalah kasus para buruh pembuat Adidas dan Mizuno yang sudah empat tahun memperjuangkan kasusnya. Pemilik merek tidak mau bertanggung jawab terhadap kasus tersebut,” kata Aliansi Floor Wage Alliance (AFWA) Indonesia Syarif Arifin.

—-
Asia Floor Wage Alliance (AFWA) adalah aliansi serikat-serikat buruh, akademisi dan pemerhati perburuhan di Asia, Eropa dan Amerika Serikat. Berpusat di India. Fokus pada kampanya upah layak di industri tekstil, garmen, dan persepatuan

National Guestworkers Alliance adalah kumpulan buruh dari Amerika Latin dan Amerika Utara yang bekerja di berbagai sektor industri di Amerika Serikat.

Job with Justice adalah organisasi buruh dan pemerhati perburuhan di Amerika Serikat yang mengkampanyekan pentingnya bentuk baru pengorganisasian buruh, upah layak dan kondisi kerja yang manusiawi di Amerika Serikat.