PENDIDIKAN DAN PELATIHAN HUKUM DAN ADVOKASI PERBURUHAN – K3

Sabtu, 15 April 2017 Dua Federasi wilayah kordinator Sumatera Selatan bergabung melakukan Pelatihan dan Pendidikan Hukum dan Advokasi Perburuhan dan Advokasi K3. Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas Indonesia ( FSP2KI ) dan Federasi Serikat Buruh Kerakyatan Indonesia ( fserbuk ), di Training Center Training Center, PT. tanjungenim Lestari Pulp and Paper, Muara enim.

Peserta dari 2 Federasi Pendidikan dan Pelatihan gabungan tersebut di hadiri 50 orang, Enam Serikat Pekerja ( SPA ) dari FSP2ki dan Delapan SPA dari FSERBUK. Banyaknya permasalahan – permasalahan Hubungan Industrial di Perusahaan menuntut pengurus maupun anggota harus mampu untuk men-Advokasi /melindungi diri masing – masing dari permasalahan hukum di tempat kerj,a seperti tertuang dalam ilmu dasar – dasar serikat.
Materi yang di sampaikan oleh Nelson F Saragi tersebut menitik beratkan pada regulasi Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial dan penyelesaian keluh kesah, di dalam meng-Advokasi bisa dengan cara Liitigasi dan Non Legitasi. Ada 2 sumber hukum perburuhan, Otonom (dari dalam ) yang termuat dalam kesepakatan bersama dan Heteronom ( dari luar ) Undang-undan, peraturan Daerah, Permenaker dll.

Di hari yang sama materi Advokasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( K3 ) yang di sampaikan oleh Firman (Lion).Kecanggihan mesin belum mampu mengngerem angka kematian yang di sebabkan kecelakaan kerja , diambil dari data BPJS Ketenagakerjaan 2016 diperkirakan setiap 6 jam, buruh kehilangan nyawanya, rata-rata 98.000 kasus kecelakaankerja setiap tahunnya, ada 2400 meninggal dan 40% cacat. Angka kematian di Dunia hampir sama dengan angka kematian yang di sebabkan oleh perang, ILO mencatat ada 2.2 juta meninggal dunia setiap tahun, ini bisa di samakan 15 detik meninggal dunia karena pekerjaannya.

Tingginya kecelakaan kerja dan akibatnya, kurangnya sosialisasi perusahaan akan pentingnya fungsi Alat Pelindung Diri ( APD) dan pencegahannya. Alat pelindung diri yang tidak sesuai dengan kareteristik pekerjaan, tidak nyama, tidak memenuhi standar keselamatan, bahkan kelebihan jam kerja juga penyumbang kecelakaan kerja. Perusahaan bertanggungjawab akaibat kecelakaan kerja dan berkewajiban memenuhi semua unsur perlindungan pekerja terhadap resiko kecelakaankerja dan resiko akibat hubungan kerja. Pekerja juga harus lebih mementingkan keselamatan diri, lakukan fungsi perlindungan diri sedini mungkin.