Pendidikan Harus Menumbuhkan Solidaritas

Pendidikan Advokasi Sesi II di Karawang

Apa ujung yang hendak dicapai dari pendidikan keserikatburuhan ? Jawabnya adalah solidaritas! Demikian simpul yang diambil oleh peserta dalam pendidikan advokasi dan hukum perburuhan yang diselenggarakan oleh FSP2KI Korwil Jawa Barat pada 5 Oktober 2013 bertempat di Aula Disnakertrans Karawang.

Dua Sesi pertama membahas mengenai  Substansi Hukum Perburuhan  dan Sumber Hukum perburuhan dengan pemateri Alghifari Aqso dan Tigor Hutapea. Materi ini membedah dengan tuntas terkait substansi dan sumber hukum perburuhan dikaitkan dengan berbagai contoh kasus dalam diskusi kelompok.
Alghif,demikian pengacara muda dari LBH Jakarta ini biasa dipanggil- menegaskan bahwa hukum, bisa jadi hanya merupakan alat saja, perangkat saja. Kunci kemenangan dalam pertarungan selalu ditentukan kekuatan kita. Kekuatan Serikat. Untuk itu, pendidikan ini hars menjadi bagian penguatan serikat.
Sementara Edy Sumardi, Wapres FSP2KI, dalam pernyataan penutup setelah pendidikan, memberikan sebuah harapan bahwa pendidikan adalah proses menuju pembangunan dan perasaan yang sama. Perasaan yang sama dalam berjuang itu, nanti harus diimplementasikan secara nyata dalam perjuangan. Itulah yang disebut solidaritas. Apalah artinya terdidik kalau tidak semakin mampu menunjukkan solidaritasnya terhadap kawan buruh yang lain. Dari pelatihan kali ini,ada dua catatan baru bagi kita semua,khususnya anggota FSP2KI.
I.Pekerja Outsourcing Pindo Deli Siap Membentuk Serikat Pekerja.
Ada 5 orang pekerja outsourcing yang ikut hadir dalam pendidikan Hukum Perbruhan dan Advokasi di Disnakertrans Karawang hari ini. Mereka terlibat secara antusias dalam pendidikan. “Bagi  kami, ini benar-benar pencerahan. Sebab kami, mengetahui hukum perburuhan dan ini bermanfaat bagi  kami,” tegas salah satu pekerja outsourcing yang menjadi peserta.
Lalu apa yang harus dilakukan ketika pekerja Outsourcing mengalami masalah ? Maruli, pemateri dalam pendidikan memberikan beberapa saran dan tips. Salah satunya adalah membentuk serikat pekerja, atau membangun komunikasi dengan serikaat lain di perusahaan untuk kemudian melakukan action bersama-sama.
Rencana menjadi semakin kongkrit ketika peserta memberikan dukungan dan fasilitasi. Dalam diskusi terkait dengan serikat, mereka menjadi semakin yakin bahwa perubahan, memang hanya akan terjadi kalau dilakukan dengan benar dan alat perjuangan yang kuat.
Pendidikan yang diikuti oleh sekitar 50 peserta itu, juga diikuti oleh 6 orang kader perempuan FSP2KI. Pendidikan berlanjut sampai tanggal 6 Oktober 2013, dengan materi simulasi pemogokan.
II. Niran :Pendidikan Harusnya Dilakukan Terus Menerus Tanpa Lelah.
Niran, buruh Pindo Deli yang tahun depan akan memasuki masa pensiun masih terlihat bergerak dengan energik. “Usia, bukan merupakan hambatan. Justru, semakin mematangkan nilai perjuangan kita, “ kata Niran di sela-sela pendidikan Advokasi hari ini.
“Saya sudah terlibat dalam perjuangan serikat sejak masih di SPSI Pindo deli sampai sekarang kita di FSP2KI,” lanjut Niran. Dan hal itu, terlihat dari berbagai pernyataannya yang menunjukkan bahwa dia memang matang dalam berorganisasi. Semangatnya, masih sama seperti 13 tahun yang lalu ketika terlibat dalam aksi-aksi serikat.
Terkait dengan pendidikan ini, Niran mengajak agar semua yang hadir bisa memahami dan kemudian melakukan praktek di lapangan. Tularkan kepada anggota dan jangan hanya dipakai sendiri. Pendidikan, dalam kondisi apapun tidak boleh berhenti. Pendidikan, belajar sampai kita mati..(khi)