Perlindungan dan Pembelaan Pekerja Perempuan



Pekerja perempuan acap kali mendapatkan perlakuan yang tidak adil atas perlakuan dan tindakan serta permasalahan-permasalahan di tempat kerja, seperti ; kerja paksa, kesehatan reproduksi dan pelecehan/kekerasan seksual di tempat kerja. Persoalan buruh perempuan pekerja adalah bagian integral dari persoalan pekerja. Oleh karena itu, kehadiran Serikat adalah hal yang penting. Keberpihakan Serikat pada penuntasan persoalan buruh perempuan tentunya akan menjadi posisi tawar ketika berhadapan dengan pengusaha dan negara yang hingga saat ini belum berpihak pada kaum pekerja.

Persoalan buruh Perempuan Pekerja perlu di perhatikan bersama-sama, bukan hanya permasalahan perburuhan lainnya tapi permasalahan terhadap perempuan pekerja itu sangatlah penting dan harus segera penanganan serta perlindungan/pembelaan yg khusus. Perempuan yang menjadi korban bukanlah tidak berani untuk ungkapkan permasalahan tetapi tidak adanya perhatian & penanganan khusus dari pemerintah termasuk pengusaha, maka dari itu elemen buruh harus bersatu untuk dapat memperhatikan & penanganan serius.
Konferensi Perempuan Pekerja telah diskusi tentang permasalahan kesehatan reproduksi dan perempuan pekerja dari kerja paksa serta pelecehan / kekerasan seksual telah mencetuskan suatu gagasan untuk membentuk suatu Posko untuk perlindungan / pembelaan, agar hal tersebut dapat tertampung/terdata permasalahan ini untuk Komnas Perempuan & Komnas HAM serta Kementrian Pemberdayaan Perempuan mendorong pemerintah menangani & melindungi/pembelaan dengan menginstruksikan adanya Posko di tempat kerja dan masyarakat.
Posko Pembelaan Perempuan adalah sebuah ide untuk membentuk pusat aktivitas bersama yang bertugas membela perempuan di tempat kerja. Gagasan Posko lahir dari penyelenggaraan Konferensi Perempuan Pekerja (KPP) yang diselenggarakan pada 21 Desember 2014 lalu. KPP sendiri diinisiasi oleh Perempuan Mahardika, Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) dan Radio Marsinah FM.
Oleh sebab itu Team Kerja Bersama Posko Pembelaan Perempuan dari Konferensi Perempuan Pekerja (KPP) mengajak beberapa pengurus serikat pekerja dan aktivis perempuan lainnya untuk diskusi bersama dengan topik diskusi yang berkaitan dengan beberapa permasalahan perempuan di tempat kerja, seperti ; Kerja paksa,  Kesehatan reproduksi dan pelecehan/Kekerasan seksual di tempat kerja. Kegiatan ini dilaksanakan pada 1 Feberuari 2015, di sekretariat Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas Indonesia (FSP2KI) di Karawang.
Hadir dalam kegiatan ini para penggiat buruh perempuan, seperti Olief Serita, Jumisih, Dian Novita, Mutiara Ika Pratiwi, Dian Septi Trisnanti dari Forum Buruh Lintas Pabrik dan Perempuan Mahardika dan Diana dari Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS)Selain dari itu kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa pengurus serikat pekerja dan pimpinan pusat FSP2KI, seperti ; beberapa pengurus Serikat Pekerja Kertas Pindo Deli (SPKPD), pengurus Serikat Pekerja Kimberly Clark (SPKCI) dan pimpinan pusat FSP2KI ;Nelson F Saragih, Khamid Istakhori dan Susana Br Purba.

Harapan ke depan, semoga kegiatan diskusi seperti ini dapat menjadikan manfaat bagi pekerja perempuan dan dapat terjalinnya hubungan baik dan persatuan yang kuat untuk terus bersama memperjuangkan kaum pekerja khususnya pekerja perempuan…(RON)