SEKOLAH BURUH PEREMPUAN

SEKOLAH BURUH PEREMPUAN
Pelatihan ini dilaksanakan di Jakarta, 15 Okt – 16 Okt 2016,oleh Federasi Buruh Lintas Pabrik (SBLP) .mengangkat masalah perempuan tida pernah habisya mulai dari Kesetaraan Gender, diskriminasi Perempuan, perempuan di temat kerja dan upah pekerja perempuan.

img-20161015-wa0003
Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Paper Indonesia (FSP2KI) mengirimka 2 orang Srikandinya Rusmala hayati dan Ida Lasmauli Br. Pangabean.
Apa yang terjadi pada buruh perempuan. Nasib mereka yang malang rentan untuk mendapatkan hal – hal yang tidak mengenakan setiap saat was – was mendengar untuk di PHK, tak boleh berserikat, statusnya pekerja kontrak, bahkan banyak yang harian lepas. Jika lagi dibutuhkan maka para buruh perempuan ini akan dipanggil, jika tidak dibutuhkan maka akan diputus begitu saja hal ini kebanyakan pekerja pada padat karya semisal pabrik kompeksi pakaiyan, sepatu dll. Dan juga upah yang murah.

Selain soal maternitas atau hak reproduksi buruh perempuan yang dianggap sepele oleh perusahaan, dengan diskriminasi perbedaau upah “upah murah”, status kerja yang tidak pasti seperti kontrak, buruh harian lepas, membuat buruh perempuan di Indonesia harus berkompromi dengan waktu cuti melahirkan yang pendek, atau bersedia tidak dibayar upahnya dalam masa cuti, bahkan beberapa kasus membawa lamaran baru ketika kembali bekerja pasca cuti melahirkan.

Pada prakteknya, hak-hak reproduksi hanya disediakan untuk buruh tetap dan bukan untuk buruh outsourching atau pekerja tidak tetap. Sebagai contoh dalam industri garmen, beberapa perusahaan tidak memberikan cuti haid bagi pekerja mereka.

Selanjutnya ada praktek nyata kerja paksa yang terjadi yaitu ketika buruh perempuan dikondisikan untuk bekerja pada saat haid. Cuti haid adalah hak, pada saat haid organ reproduksi perempuan sedang tidak bekerja dengan baik maka oleh karena itu dibutuhkan istirahat, terkadang ada memang perusahaan menggantinya dengan uang. Bentuk lainnya: adanya kerja melebihi batas waktu normal 8 jam tanpa dibayar.

Hal lain juga terjadinya pelecehan seksual terhadap buruh perempuan di pabrik biasanya dilakukan oleh mandor – mandor, teknisi pabrik ketika teknisi tersebut sedang memperbaiki mesin, buruh perempuan tak kuasa melawan karena takut bila bersuara akan dipecat