SELAMAT ULANG TAHUN WIJI THUKUL

MEDIA-FSP2KI, Banyak orang tidak mengenal Wiji Thukul, dan banyak juga yang mengenalnya. Para pekerja dibelahan Sumatera, Kalimantan dan masih banyak lagi kota lainnya terkecuali memang jawa banyak yang  mengenal yaitu dikatogorikan pahlawan buruh  Wiji Thukul. Redaksi banyak membaca di medsos tentang pemberitaan Wiji Thukul yang keberanian, kepahlawanannya melawan tirani Orde baru tepatnya Tragedi 98 yaitu dimana hilang tampa bekas sang pahlawan. Dari banyak membaca pemberitaan tersebutlah redaksi mulai tertarik untuk mengangkat sang pahlawan buruh tersebut.Masih adakah Renkarnasi Wiji Thukul pada masa sekarang atau nantinya, ya  kita percaya itu !! selagi masih ada penindasan kaum pekerja, selagi ada ketidakadilan bagi pekerja dan keperpihakan pemerintah bukan pada kesejahteraan pekerja kita yakini itu Wiji Thukul akan lahir kembali entah di kota  mana ? entah dari serikat apa ? untuk mengenang ulang tahun Thukul redaksi mengangkat sebuah puisi yang sering di dengungkan

BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun–tirani harus tumbang!

Solo, 1987

Redaksi mengutip tulisan salah satu yang sangat menghargai kepahlawanan Wiji Thukul seperti dibawah ini,
Jum’at kemarin (21/8), dalam sebuah acara di Goethe Haus, Wilson bercerita tentangmu. Tentang ulang tahunmu pada 26 Agustus, yang pada tahun ini memasuki hitungan ke 52. Wilson, tentu saja mengenalmu dengan sangat baik, sebab bersamamu ia pernah bertarung dalam sebuah keras keringnya sepatu lars tentara orde baru. Wilson sangat mengenalmu dengan baik, dan ia, selalu menyebutkan namamu dengan penuh kecintaan.
2011, ketika kami berada di Bandung. Ketika kawan-kawan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, Wilson buru-buru menelpon istrimu di Solo, dengan loudspeaker, ia perdengarkan lagu itu buatmu, dan ia, merasa sangat harus mengajak istrimu menikmati suasana haru itu.
Kawan-kawan, yang terlahir dari pertarungan sesudah 98, pastilah tak mengenalmu. Bahkan, sebagian besar diantara mereka selalu mengulang salah satu bait puisimu yang sangat terkenal itu, HANYA SATU KATA : LAWAN! Dan baru bertahun berikutnya, mereka tahu itu adalah bait puisimu.
Sungguh, mencintai seseorang tak perlu selalu harus bertemu secara fisik. Sebab fisik, raga kadang membatasi kita dalam sekat-sekat. Betapa banyak, kawan yang kini tak lagi bertegur sapa sebab urusan sepele saja. Tapi, tanpa perjumpaan fisik denganmu, mereka malah mencintaimu sepenuh darah mereka.

Besok pagi, adalah 26 Agustus. Hari dimana kawan-kawanmu masih mengingatmu, mengingat hari lahirmu dan lagi-lagi Wilson berkata dengan mata berkaca-kaca malam itu : Yuk, mengenang Wiji Thukul, pasang fotonya dan tuliskan : KEMBALIKAN WIJI THUKUL.
Wilson, temanmu itu, sejujurnya yang bercerita sangat banyak tentangmu, bukan karena ia penganut kultus tapi kita tahu, dia mencintaimu sebagai sahabat, mencintai jiwa merdekamu sebagai petarung. Nanti malam, beberapa kawan berniat mengenangmu, disela rapat serikat, yang masih seperti katamu dulu : berteman kopi dan kacang, tapi jalan nya semakin terang saja. Bahkan, buruh-buruh dari sebuah serikat yang dulu selalu kau tulis dengan pedas namanya, juga mencintaimu. Mereka, akhirnya belajar juga tentang sejarah masa lalu ….
Selamat Ulang Tahun, Wiji Thukul.
Dimanapun jasadmu berada. Dalam keadaan apapun, percayalah. Kita masih akan bertemu kembali. Mungkin, kita akan membaca lagi puisi-puisi itu di Taman Ismail Marzuki atau di LBH Jakarta..